Dan Hujan Pun Berhenti. . . . .

DAN HUJAN PUN BERHENTI…

Novel perdana Farida Susanty ini sangat kental
dengan pernak-pernik Jepang. Mulai dari latar belakang keluarga
konglomerat Miyazao, unsur budaya dalam teru teru bozu, bahasa Jepang
yang sesekali dipergunakan, sampai keinginan beberapa karakter di
dalamnya untuk bunuh diri. Meski harakiri merupakan elemen adat
masyarakat Jepang sebagai solusi atas perbuatan yang dianggap memalukan,
kemungkinan besar Farida melihat hal ini sebagai gejala yang merajalela
di kalangan remaja dan anak di bawah umur di tanah air. Begitu mudahnya
orang memutuskan bunuh diri. Orang-orang yang demikian berusaha
menghindari permasalahan. Kematian itu mudah, namun kehidupan harus
dijalani.

Persamaan tekanan batin membuat Leo dan Spiza dekat, setelah remaja
pria itu kehilangan Iris untuk selama-lamanya. Anak muda yang sinis dan
membenci keluarganya sendiri ini menemukan pelabuhan teduh untuk jiwanya
yang gersang. Meski begitu, keberadaan Spiza tak urung melecut
persoalan antara Leo dan teman-temannya satu geng.

————————————————————————————————————-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: